Babymoon In Lombok


Liburan dadakan. Jadi ceritanya Mei 2016 lalu ada long weekend, dan mertuaku tiba-tiba ngusulin untuk berlibur ke Lombok. Langsung deh kita berburu tiket pesawat dan cari hotel atau villa yang masih bisa di-book. Namanya long weekend, rata-rata hotel penuh semua. Tapi akhirnya kita pun dapat tiket pesawat dan villa yang masih available. Waktu itu aku lagi hamil trimester kedua, which is waktu paling aman bagi bumil yang mau puas-puasin jalan-jalan sebelum berjuang masuk trimester ketiga. Seneng banget lah aku waktu itu bisa jalan-jalan, karena pas trimester awal sempat bedrest sebulan perkara flek. Masuk trimester kedua, obgyn aku bilang kandunganku aman. Alhamdulillah jadi bisa ikut jalan-jalan, dan babymoon terselubung hahaha.
Long story short, aku dan suami berangkat duluan ke Lombok (lupa kenapa misah sama yang lain). Sesampainya di sana, kami langsung naik taksi menuju Puri Mas Boutique Resort & Spa, villa kami di Senggigi. Di jalan, supirnya nanya, kenapa nginep di Puri Mas, kenapa ga di Svarga atau Jeeva Klui. Dalem hati udah mikir, wah takut jelek nih villanya. Belum lagi teman yang orang Mataran juga bilang hal yang sama. Pasrah aja deh, mau pindah hotel juga yang bagus udah pada unavailable semua kan. Sambil sugesti positif kalaupun jelek kan kita bakal full jalan-jalan di luar.
Sesampainya di sana, ternyata villanya bagus, bersih, dan nyaman, ga seperti yang orang-orang bilang, ga nyesel sama sekali lah datang ke sana. Cuma mungkin orang-orang ga ngerekomendasiin karena desainnya ga kekinian yang serba putih minimalis, jadi kalo di foto bagus. Kalau Puri Mas memang desainnya terkesan Indonesia banget, kata resepsionisnya sih, interior Puri Mas mengadopsi gaya Bali, Jawa, dan Lombok. Nah, setelah check in, kami diantar ke villa kami. Unitnya lumayan besar (kebesaran malah buat berdua wkwk), di dalamnya ada private pool, dapur, gazebo, outdoor shower, outdoor bath tub. Lengkap banget lah, cuma ya sayangnya fasilitas dapur ga terpakai karena kami selalu makan di luar kulineran hehe. 










Destinasi pertama kami adalah...Gili Trawangan! Di sana tugas aku dan suami adalah untuk survey lokasi buat besoknya ajak keluarga suami aku muter-muter sana. Kami keliling pulau menggunakan sepeda sewaan, di sana ga ada kendaraan bermotor sama sekali, bahkan polisi aja naik sepeda. Kami makan siang di Pearl Beach Lounge, dan di jalan pulang kami menemukan cafe lucu serba putih kuning, namanya Casa Vintage. Oh iya, karena ini liburan, aku banyak banget ketemu temen di sini.
Setelah muter-muterin Gili Trawangan, aku jadi mikir, next time liburan ke Lombok kayaknya ga perlu nginep di villa mahal di Senggigi deh, mending nginep di penginapan kecil di Gili Trawangan. Kayaknya hidup jadi berasa santai banget, bangun pagi ga usah dandan langsung renang. Siang nyantai-nyantai di cafe, gitu aja terus.

















Hari berikutnya, acara kami adalah snorkling. Kami berangkat dari Gili Trawangan, lalu berhenti di beberapa spot untuk melihat penyu dan terumbu karang. Pengalaman pertama snorkling, awalnya aku takut ngebayangin dasar laut, gelap, nanti ada bangkai kapal, terus ada binatang laut yang jahat, dll. Tapi pas mau nyemplung jadi lebih tenang karena liat bule-bule di kapal lain kayak pada excited jadi aku ga terlalu panik. Pas udah nyelemin muka ke bawah, ternyata seru juga! Awalnya aku masih pakai pelampung jadi ga bisa nyelam ke dasar, tapi setelah itu aku copot pelampung dan coba nyelam ke dasar laut. Susah juga loh untuk tetep stay lama di dasar, kuping rasanya sakit karena perbedaan tekanan. 






Hari terakhir, aku dan suami pergi ke Desa Sade, salah satu desa tempat tinggalnya Suku Sasak. Di sana kita bisa lihat rumah khas Suku Sasak, yang konon dipel dengan menggunakan kotoran sapi :O Selain itu juga terdapat penduduk yang menjual kain tenun. Setelah mengunjungi Desa Sade, kami menuju Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan. Kedua pantai ini terletak relatif dekat dengan bandara, sehingga kami sengaja mengunjungi pantai ini sebelum ke bandara. Oh iya, di tengah perjalanan dari Pantai Kuta ke Pantai Tanjung Aan, ada cafe kecil yang unik, namanya Drop In Cafe, pemiliknya kalo ga salah orang Jerman.
Pantai Tanjung Aan merupakan tujuan terakhir kami. Pantainya cenderung sepi, tidak seramai di Gili Trawangan. Padahal aku kira ramai, karena pantai ini lumayan terkenal, bukan semacam hidden gem yang orang masih banyak belum tahu. Siang itu sangat sangat sangat panas, so we were like, "oh ok, at least we've seen this beach. Now let's go back to the airport."









1 comment:

  1. haii salam kenal yaa,
    mau tanya dong jadi aman ya naik speedboat pas lagi hamil?
    oh ya disana pakai tour apa sendiri muter2nya?

    ReplyDelete