Newborn Photography (Part I: The Beginning)


Disclaimer: post ini bukan untuk promosi bisnis baru aku kok. Di sini aku cuma mau cerita tentang naik-turunnya aku dalam membangun bisnis ini. 


Kehidupanku mungkin terlihat sangat ideal di mata orang lain. Setelah lulus kuliah S1, aku langsung mengambil pendidikan master di Perancis. Alhamdulillah gelar master aku dapatkan di usiaku yang ke-21. Langsung pulang, menikah, dan punya anak. Ideal menurut orang lain, belum tentu ideal menurutku. Di saat teman-teman seusiaku sibuk mengejar karir, aku setiap hari mengulang rutinitas yang itu-itu saja. Memandikan anak, menyuapi anak, segala hal untuk anak. Sebenarnya ada serunya juga, karena dunia anak ini merupakan dunia yang baru bagiku. Tapi jujur, ada jenuhnya juga.
Kenapa ga kerja kantoran aja? Ya sebenarnya suamiku juga ga ngelarang aku kerja. Cuma aku yang melarang diriku kerja kantoran. Kepentok prinsipku sendiri sedari dulu, kalau udah punya anak, ga mau kerja kantoran yang minimal kerjanya 9 to 5. Belum kemakan waktu perjalanan. Belum lagi aku tinggal di Bogor yang harus PP Jakarta tiap hari, ga memungkinkan banget. Ya mungkin sih, cuma balik lagi ke prinsipku: aku mau ketemu anakku 24/7.

Kata orang, perkembangan anak itu pesat-pesatnya saat usia mereka 0-3 tahun. Golden age katanya. Jadi ya aku mau aku ada di golden age anakku. Walaupun pada kenyataannya, akupun ga pernah bikin-bikinin anakku permainan yang edukatif (maklum aku ibu pemalas). Mentok-mentok cuma main bareng dan baca buku bareng. Tapi kalau dilakukan tiap hari, ya dampak jangka panjagnya bagus juga kan walaupun cuma hal kecil begitu? :) Bahkan walaupun kita ga ngajarin mereka apapun (berhitung, alfabet, dsb) at least dengan anak selalu ada di sekitar kita, dia bisa belajar perilaku kita setiap hari, sopan santun, tata krama, kebiasaan membersihkan rumah, dan banyak hal lain yang tidak kita sadari itu meresap ke dalam pikiran anak. Aku ga akan terima kalau aku kerja, aku salah pilih pengasuh, dan manner dia yang jelek kejiplak ke anakku 😭 No, daripada menyesal aku mending stay at home dulu. Ini bukan aku kontra dengan ibu-ibu yang pakai jasa pengasuh ya, akupun sekarang kalau ada juga mau banget, tapi dengan syarat aku tetap ada dengan anakku. Jadi aku ga akan ninggal anakku sendiri dengan pengasuh.

Balik lagi. Menginjak usia anakku yang ke-1, suamiku sering membahas, mau ngapain aku ke depannya? Kerja kantoran kah? Atau membuka usaha? Because he knows me really well kalau aku cuma di rumah pasti aku bakalan stress jadi harus melakukan sesuatu yang produktif. Ya dengan mantap aku menjawab: buka usaha. Pertanyaan selanjutnya: usaha apa? Awalnya aku bingung, benar-benar bingung. Bidang apa sih yang sebenarnya passionku? Yang jelas...bidang yang membutuhkan keterampilan dan kreativitas sih (wedeeew). Tapi kan banyak? Baking? Make up? Dekor pesta? Jasa desain interior rumah? Atau...fotografi?

Long story short, aku pilih bidang fotografi. Sebenarnya udah dari SMP aku suka bidang ini, dan pas SMA aku dibelikan mama kamera DSLR pertamaku, jadi saat itu lagi hobi-hobinya hunting foto, tapi masih belum jelas genrenya. Kadang landscape, pernah pakai ada modelnya, yang jelas dulu ga suka foto makanan karena kayak susah aja (eh sekarang instagram sukanya foto makanan wkwk). Pernah saat SMA saking niatnya sama teman-teman hunting foto ke Cipanas dong naik angkot! Ke air terjun di pelosok Bogor juga pernah, sampai aku jatuh kesandung batu dan diliatin banyak monyet liar. Oh iya sok ide ke klenteng di Jl Surya Kencana juga pernah. You name it.

Intinya, sebenarnya tanpa sadar aku sudah suka bidang ini dari usia 13-14 tahun ya, dan who knows ternyata bergelut di bidang ini adalah takdir hidup aku. Big thanks to my mom who always supporting me since forever. For trusting me to own a DSLR camera when I was only 14 years old. Yang aku ingat saat di toko kamera saat mau bayar mama bilang, "gpp lah abis segini kalau berguna buat kamu siapa tau kamu bisa seriusin dan jadi fotografer." No, bukannya senang, saat itu aku malah sedih 😭 Sedih karena how my mom put so much trust and hope on me. Aku ngerasa piyik banget saat itu, di umur 14 aku pengen kamera cuma buat iseng-iseng doang ga mikir sampai jauh ke sana, jadi kayak terbeban banget.

Fast forward to 10 years later...Voila! I'm a newborn photographer! Lalu aku percaya bahwa kata-kata ibu adalah doa. Look at me now after those ups and downs, sedang sibuk memulai bisnis baruku yang insya Allah akan dibuka pertengahan tahun 2019 ini. Oh iya, karena di-fast forward, downs-nya ga keliatan ya? Looks like I'm a lucky kid yang sedari kecil diberi privilege oleh orangtua dan wajar aja sekarang aku dengan mulusnya bisa berada di titik ini. But no! Jauh dari itu :) Next post I will break down into details, the downs. Yes, the downs. I've been in so many downs but lucky me I have a supporting mom and husband :) Hope this will inspire you to keep going on what you've been doing.

0 comments:

Post a Comment